Hubungan Pendidikan Indonesia dan Jepang

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia dan Jepang merupakan negara di Asia yang memiliki suatu catatan sejarah yang terkait. Pada masa sebelum Perang Dunia II (PD II), Jepang telah memiliki hubungan secara tidak langsung dengan Indonesia yang pada masa itu masih dibawah Pemerintahan Hindia Belanda. Hingga akhir PD II dan Jepang mengalami kekalahan dari sekutu, Indonesia merasakan hubungan yang sangat buruk dengan Jepang.
Jepang pada masa kekalahannya sangat terpuruk. Namun Jepang berusaha bangkit untuk memperbaiki kestabilan negaranya. Jepang berusaha untuk menjalin kerja sama dengan beberapa negara untuk memulihkan kondisinya. Salah satunya, melakukan kerja sama dengan Indonesia. Hubungan kerja sama cukup sulit untuk dilakukan karena respon masyarakat Indonesia yang tidak bersimpati kepada Jepang setelah apa yang mereka rasakan selama Jepang melakukan pendudukan di Indonesia sebelumnya.
Tetapi Jepang tidak kehabisan akal. Berbagai kerja sama ditawarkan baik dalam bentuk materil maupun bentuk bantuan berupa jasa. Salah satu yang menarik untuk dibahas adalah kerja sama di bidang pendidikan. Jepang dan Indonesia memulihkan kembali hubungan kerjasamanya, yaitu dengan memiliki hubungan diplomatik yang formal seusai PD II pada tahun 1958.
Menjelang tahun 1960-an, banyak pemuda Indonesia kembali dari Jepang dan mulai mengajarkan bahasa Jepang di Indonesia. Hal ini didukung pula dengan dibukanya lembaga kursus bahasa Jepang di Lembaga Kebudayaan Jepang di Jakarta pada tahun 1958. Lembaga ini berdiri atas bantuan kedutaan Jepang di Jakarta yang bekerja sama dengan para mahasiswa Indonesia yang baru kembali setelah belajar di Jepang. Setelah itu, lembaga-lembaga pendidikan lainnya mulai bermunculan di Indonesia.
Tidak hanya di Indonesia, hubungan kerja sama Indonesia dan Jepang juga terlihat dari dibentuknya lembaga-lembaga pendidikan bahasa Indonesia di Jepang. Salah satu contohnya adalah didirikannya Nihon-Indonesia Gakkai (Perhimpunan Pengkaji Indonesia Seluruh Jepang) pada tahun 1969. Lembaga ini melakukan kajian bahasa dan budaya Indonesia di universitas-universitas yang ada di Jepang. Jauh sebelumnya, Bahasa Indonesia cukup endapat perhatian lebih di universitas-universitas yang ada di Jepang. Di universitas seperti Tokyo University of Foreign Studies pada tahun 1922 dan Universitas Tenri pada tahun 1925, Bahasa Indonesia dijadikan bahasa asing kedua setelah bahasa Inggris yang menjadi favorit pilihan.
Seiring dengan perkembangan kerja sama tersebut semakin banyak pula bermunculan lembaga-lembaga pendidikan bahasa Indonesia dan Jepang baik itu di Indonesia maupun di Jepang. selain contoh yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat pula beberapa lembaga yang masih aktif sampai sekarang di bidang pendidikan khususnya bahasa seperti Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), Persatuan Alumni Dari Jepang (PERSADA), Asian Students Cultural Association (ASCA/ABK), Japan Foundation (JF).
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mengetahui sejarah perkembangan lembaga-lembaga pendidikan di bidang bahasa Indonesia maupun Jepang dengan menulis makalah berjudul:
“judul”
B. Batasan Masalah
Objek yang dikaji dalam makalah ini adalah hubungan kerjasama Indonesia dan Jepang dalam bidang pendidikan. Pembahasan mengenai kerjasama Indonesia dan Jepang di bidang pendidikan sangat luas, oleh karena itu dalam makalah ini kami hanya membahas mengenai lembaga pendidikan dalam bidang bahasa Indonesia maupun Jepang. Untuk membatasi masalah, penulis hanya membahas tentang lembaga pendidikan Indonesia-Jepang yang aktif pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1989, yaitu Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), Persatuan Alumni Dari Jepang (PERSADA), Asian Students Cultural Association (ASCA/ABK), Japan Foundation (JF).
C. Rumusan Masalah
Bagaimana bentuk kerjasama antara Indonesia dan Jepang melalui Lembaga-lembaga pendidikan Indonesia-Jepang yang aktif pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1989, yaitu Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), Persatuan Alumni Dari Jepang (PERSADA), Asian Students Cultural Association (ASCA/ABK), Japan Foundation (JF) ?

D. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui Bagaimana bentuk kerjasama antara Indonesia dan Jepang melalui Lembaga-lembaga pendidikan Indonesia-Jepang yang aktif pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1989, yaitu Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), Persatuan Alumni Dari Jepang (PERSADA), Asian Students Cultural Association (ASCA/ABK), Japan Foundation (JF).
Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah:
1. Menambah pengetahuan mahasiswa tentang dampak hubungan kerjasama Indonesia – Jepang dalam bidang pendidikan.
2. Mahasiswa terlatih dalam membuat makalah.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT)
Tanggal 21 April 1962 telah diresmikan berdirinya Taman Pendidikan Indonesia di Jepang. Peresmian ini dilakukan pada saat upacara peringatan hari Kartini. Bapak R. Bambang Sugeng selaku Duta Besar Republik Indonesia untuk Tokyo meresmikan berdirinya Taman Pendidikan Indonesia tersebut. Sejak saat itu setiap tanggal 21 April selalu dirayakan sebagai hari ulang tahun Taman Pendidikan Indonesia di Jepang yang kemudian berubah nama menjadi SRIT. Nama Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) resmi baru ada saat upacara bendera tanggal 17 Agustus 1963 dan kemudian dikukuhkan sebagai sekolah yang statusnya disamakan dengan sekolah-sekolah negeri di Indonesia dengan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 83 tertanggal 1 september tahun 1963. Pada saat itu baru diresmikan ada tiga jenjang pendidikan di SRIT yaitu TK,SD dan SMP dengan jumlah siswa seluruhnya berjumlah 45 orang siswa. Dan berlokasi di Pondok OWIT (Organisasi Wanita Indonesia Tokyo).
Tanggal 1 Februari 1965 untuk pertama kalinya jenjang SMA di buka di SRIT dengan jumlah siswa SMA sebanyak 5 orang siswa. Pada tanggal ini juga lokasi SRIT dari Pondok OWIT pindah ke Wisma Indonesia yang megah, dengan perlengkapan yang bagus, memiliki sport hall yang besar dan lapangan olahraga yang luas yang lokasinya terletak di daerah Setagaya. Pada 30 Mei tahun 1966 untuk pertama kalinya didirikan POMG (Persatuan Orang tua Murid dan Guru) yang kini berubah nama menjadi BP3 (Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan).
Tahun 1968 jumlah siswa SRIT pernah mencapai 158 siswa dan di tahun yang sama pertama kalinya SRIT meluluskan jenjang SMA dengan jumlah lulusan sebanyak 7 orang siswa. Pada 5 Mei 1969 atas prakarsa POMG didirikan perpustakaan SRIT yang pertama kali. Tahun 1970 Wisma Indonesia yang megah dan luas di jual oleh KBRI sehingga SRIT pindah ke Minami Bamba, di sebuah gedung tua bekas Bank Mitsui. Sehingga kehampaan dan keterasingan dirasakan baik oleh siswa maupun guru-guru dan karyawannya. Di Minami Bamba ini berjalan selama satu tahun. Tahun 1971 SRIT pindah dari Minami Bamba ke gedung Balai Indonesia yang baru dibangun di wilayah Meguro (hingga saat ini). Meskipun tidak semegah Wisma Indonesia yang dijual itu, keberadaan SRIT di Meguro ini cukup mengobati kerinduan siswa dan guru untuk menjalani proses pendidikan di tempat yang layak. Tanggal 2 februari tahun 1972 diresmikan berdirinya perpustakaan SRIT dan Laboratorium Fisika, Kimia dan Biologi.
Pada tahun ajaran baru di tahun 1972 ini terjadi perubahan besar, yakni semua guru boleh mengajar dari tingkat SD sampai SMA, sehingga semua jenjang baik siswa maupun gurunya saling mengenal dan lebih dekat, sebelumnya dilakukan secara terpisah (Guru SD tidak boleh mengajar SMP dan SMA begitu juga sebaliknya). Pada bulan Desember 1972 ruang perpustakaan berubah fungsi menjadi ruang musik sehingga ruang perpustakaan dipindahkan ke tempat gudang yang sempit, gelap dan lembab. Tahun 1973 terjadi sejumlah perubahan dan perbaikan antara lain diterbitkannya sejumlah tata tertib sekolah, termasuk tentang kewajiban siswa kelas III SMA untuk membuat Karya tulis diakhir tahun dan diterbitkannya slide-slide ilmu pengetahuan dari tingkat SD sampai SMP yang didukung dari dana international Tokyo. Tahun 1974 hari belajar dirubah dari 6 hari menjadi 5 hari dan di tahun yang sama diciptakan lagu Mars SRIT oleh pak Ischak dan diterbitkannya majalah sekolah pada waktu itu disebut majalah pelajar. Tahun 1976 SRIT menggunakan kurikulum nasional 1975. Pada ulang tahun SRIT yang ke 14 diadakan kegiatan acara malam kesenian yang cukup besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Komunitas masyarakat Jepang juga diundang, terutama penduduk sekitar SRIT. Tahun 1983 siswa SRIT mencapai jumlah terbanyaknya yakni sebanyak 164 siswa.
Periode tahun 1983 hingga tahun 1990-an SRIT telah banyak meluluskan alumninya dan kuliah di sejumlah perguruan tinggi negeri terkemuka baik di Indonesia, di Jepang, di negera-negara Eropa maupun Amerika. Periode ini adalah juga periode dimana diskusi-diskusi tentang pendidikan dan psikologi sangat sering dilakukan di kalangan guru untuk meningkatkan kinerja dan profesionalisme guru dalam mengajar. Berbagai kegiatan dengan sekolah-sekolah Jepang dan lembaga-lembaga Jepang dan internasional seperti UNESCO juga mewarnai aktifitas SRIT pada periode ini. Partisipasi siswa SRIT dalam kegiatan-kegiatan besar juga terjadi antara lain pada kegiatan Sixth Universal Harmony World Children Art Exhibition dan pada kegiatan 4th International Goodwill Children’s Big Physical Festival. Pada periode ini juga perpustakaan kembali di perbaiki atas prakarsa dari BP3 dan perbaikan beberapa ruang. Meskipun dalam periode ini SRIT sempat hampir ditutup sebagai dampak krisis moneter yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998.
2.2 Persatuan Alumni Dari Jepang (PERSADA)
Pada tanggal 5 Juli 1963 Persatuan Alumni Dari Jepang (PERSADA) didirikan sebagai suatu wadah tempat bersatunya para pelajar,mahasiswa,trainee Indonesia dari semua angkatan atau rombongan, baik yang datang untuk belajar sebelum proklamasi dan setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, baik dengan beasiswa pemerintah maupun swasta.
Pada tanggal 17 Juli 1963 bertempat di Ball Room Hotel Duta Indonesia (sekarang komplek Duta Merlin) diadakan malam resepsi berdirinya PERSADA dan pengumuman susunan pengurus yang pertama dengan Ketua Umumnya Alm. Bapak Umarjadi Njotowijono. PERSADA didirikan sebagai wadah untuk membina persatuan dan kesatuan alumni dari Jepang serta untuk membantu pemerintah dalam mensukseskan programnya sesuai dengan disiplin ilmu yang dituntut oleh masing-masing anggota dan bukan untuk polarisasi dan penggolongan yang mengotakkan alumni dari Jepang dengan alumni dari negara-negara lain.
Para alumni menyadari, bahwa keberhasilan menimba ilmu di Jepang adalah berkat perhatian pemerintah Indonesia dengan dana yang disediakan oleh rakyat Indonesia. Para alumni sangat berhutang budi kepada pemerintah dan rakyat Indonesia. Karena itu PERSADA dengan semua anggotanya mempunyai komitmen berbakti semaksimal mungkin membalas budi kepada pemerintah dan rakyat Indonesia yang telah memberi kesempatan, baik langsung maupun tidak langsung untuk mengembangkan diri pribadi dengan menimba ilmu di Jepang.
Berkaitan dengan itu, maka setelah diadakan pertimbangan – pertimbangan bersama yang mendalam, disepakati untuk mendirikan universitas, sebagai lembaga untuk mencerdaskan bangsa. Tepatnya pada tanggal 6 Juli 1986 dengan dana swadaya dari masing-masing anggota
PERSADA, tanpa adanya bantuan dari pihak luar, berdirilah UNIVERSITAS DARMA PERSADA (UNSADA), sebagai monumen hidup, kebanggaan para alumni dari Jepang. UNSADA menjadi perhatian masyarakat Jepang, diantaranya Perdana Menteri Jepang Takeo Fukuda (Alm) dan juga Kaisar Akiko dan Permaisuri Michiko telah berkunjung ke Universitas Darma Persada.
Dalam kegiatan-kegiatannya yang berhubungan dengan Jepang, PERSADA pernah bekerjasama dengan Harmony Center dan International Youth Association of Japan (KSKK) menyelenggarakan Pertukaran Remaja Indonesia – Jepang (PRIJ) yang dilaksanakan setiap tahun sekali, Juga diadakan Japan Education Fair (Pekan Pendidikan Jepang) secara berkala di Jakarta untuk peningkatan study lanjutan di Jepang dalam rangka kerjasama antara PERSADA / Universitas Darma Persada dan Association of International Education, Japan yang menghimpun perguruan-perguruan tinggi di Jepang.
Program tahunan TSUDOI ( Reuni ) bagi alumni dinegara-negara ASEAN yang diselenggarakan oleh Gaimusho (Kementrian Luar Nageri Jepang) merupakan kesempatan bagi alumni Indonesia untuk bersilaturahmi dengan teman-teman dari negara-negara ASEAN dan juga dengan masyarakat Jepang untuk memperbaharui serta meningkatkan hubungan baik yang sangat berharga bagi usaha-usaha kerjasama dipelbagai bidang.

This entry was posted in Sejarah Hubungan Indonesia Jepang. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s