Peristiwa Duel Miyamoto Musashi dan Sasaki Kojiro

Peristiwa duel Miyamoto Musashi dan Sasaki Kojiro menunjukkan sebuah duel yang seharusnya tidak perlu terjadi. Namun, akibat ketidakpuasan dari salah satu pihak menyebabkan terjadilah duel tadi. Terlihat jelas budaya-budaya zaman Edo pada cuplikan film tersebut. Mulai dari kostum yang dikenakan, bahasa yang digunakan, sampai gerakan-gerakan yang menunjukkan zaman yang berbeda dengan zaman modern ini. Pada cuplikan tersebut jelas pula telihat perbedaan antar kedua tokoh tersebut dimana salah satunya termasuk ksatria yang belajar melalui institusi (Sasaki Kojiro) dan ksatria yang belajar langsung dari alam (Miyamoto Musashi). Tergambar dengan jelas bagaimana Miyamoto Musashi memanfaatkan alam untuk kelangsungan duel yang adil bahkan sampai tahap penyerangannya. Sedangkan Sasaki Kojiro yang mungkin telah terbakar ambisi untuk mengalahkan Musashi, tidak lagi memperhatikan sarung pedangnya yang sebenarnya pantang untuk dilakukan.

Dari cuplikan tersebut kita mampu mempelajari sedikit tentang kebudayaan Edo dilihat dari segi kostum dan bahasa pengantarnya. Selain itu, terdapat pula makna yang terkandung dalamnya. Salah satunya, bertindak gegabah dalam menentukan suatu pilihan hanya akan memberikan akibat yang merugikan bagi diri sendiri. Terlihat ketika Sasaki Kojiro menantang Miyamoto Musashi untuk berduel padahal Musashi telah menolaknya karena menurutnya mereka bukan hadir sebagai rival yang wajib bertarung namun sebagai penerus yang wajib mewariskan ke generasi selanjutnya tentang ke-Samurai-an melalui jalan masing-masing. Walaupun begitu Sasaki Kojiro terus saja mendesak dan akhirnya Musashi menanggapinya. Hal lain adalah kita harus berpikir out of box. Tidak akan ada yang mengira bahwa pedang kayu dapat mengalahkan pedang besi. Namun karena kelihaian Musashi menggunakan pedang kayu tersebut serta memanfaatkan alam dalam hal ini matahari, dia mampu mengalahkan Sasaki Kojiro. Adapun hal-hal lain seperti betapa tidak teganya Musashi untuk menerima tantangan duel tersebut karena merasa mereka sebenarnya bukan rival juga termasuk pembelajaran. Tidak selamanya orang-orang yang menggunakan cara berbeda itu harus dipandang sebelah mata karena apa yang ingin kita capai sebenarnya sama.

Sungguh pelajaran yang cukup berarti ketika menonton sekilas cuplikan film tadi. Kita seharusnya lebih belajar untuk melihat segala sesuatu dari banyak sudut pandang. Selalu memanfaatkan apa yang ada disekitar kita. Serta mencoba menganggap apapun  atau siapapun itu sebagai sumber penambah ilmu kita bukan menjadi rival kita.

This entry was posted in Metodologi Penelitian Kebudayaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s