Sistematika Kerja Akal Budi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang

Manusia adalah makhluk hidup yang paling sempuran yang ada di muka bumi ini. Indikator kesempurnaannya dibandingkan makhluk hidup yang lain adalah manusia memiliki akal yang merupakan alat untuk berpikir. Berpikir yang ideal adalah ketika kita berpikir sesuai dengan kaidah-kaidah logika yang ada.

            Manusia dengan logikanya membantu mereka untuk menjalani hidupnya secara seimbang. Dalam menjalankan kehidupannya aka nada norma-norma yang mengaturnya. Dalam menentukan mana yang harus diikuti maupun ditinggalkan, akal budi akan sangat berperan penting.

Oleh karena itu, sangat pentinglah kita untuk memahami bagaimana sebenarnya sistematika kerja akal budi itu sendiri.

 

1.2            Tujuan

  • Pemberian pengetahuan tentang logika khususnya mengenai Sistematika Kerja Akal Budi.
  • Untuk memenuhi tugas mata kuliah Logika.

 

1.3      Manfaat

  •  Kami menjadi lebih paham dan mengerti mengenai Sistematika Kerja Akal Budi yang sebelumnya tidak kami ketahui sedikit pun.
  •  Pengetahuan kami dalam membuat makalah juga semakin bertambah.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

SISTEMATIKA KERJA AKAL BUDI

2.1       Pengantar

            Secara mendasar, sistematika kerja akal budi manusia mempunyai 3 cara yaitu, membagi (distinct), memberikan ketentuan, dan menyusun pemikiran. Dalam pembahasan kali ini, kami akan membahas lebih lanjut lagi mengenai sistematika kerja akal budi manusia.

2.2       Pembagian

Ada sebuah prinsip yang dikenal dengan “Divide et impera” yang berarti bahwa: Perlu terlebih dahulu membagi-bagi, untuk selanjutnya kita kuasai konsep-konsep, term-term, proporsi-proporsi, dll. Namun pembagian ini bukanlah sarana untuk kita dapat mengetahui dan bukan pula tujuan. Namun pembagian ini adalah membagi untuk mempersatukan.

            Dalam logika, pembagian berarti menunjuk dan menjumlah secara jelas perbedaan-perbedaan dari bagian-bagian suatu keseluruhan logis. Dan bagian adalah hal-hal yang menyusun suatu keseluruhan. Maka keseluruhan dapat dibagi-bagi.

Keseluruhan riel adalah keseluruhan yang tidak dapat dijadikan predikat masing-masing bagiannya.

Keseluruhan logis adalah keseluruhan yang dapat menjadi predikat masing-masing bagiannya.

Ada beberapa jenis-jenis keseluruhan :

  • Keseluruhan aksidental
  • Keseluruhan esensial
  • Keseluruhan universal
  • Keseluruhan integral

 

 

Ada pun 2 macam pembagian, yaitu :

  1. Pembagian esensial
  2. Pembagian aksidental

Hukum-hukum pembagian/klasifikasi

  1. Pembagian haruslah utuh/adekuat

Manusia

 

Bangasa Amerika                                                                              Bangsa Indonesia

 

  1. 2.     Pembagian haruslah mengekslusifkan yang lainnya/idak boleh bertumpukan, tumpang tindih.

Manusia

 

Ahli Hukum                                                   Sarjana Farmasi

 

Cantik                                                 Sawomatang kulitnya

 

Pembagian haruslah dilakukan secara rapi. Hokum ini  lebih-lebih harus diperhatikan apabila kita hendak mengadakan sub-pembagian.

Pembagian dan Ilmu

            Pembagian begitu lengket pada kegiatan intelek manusia bahkan alam begitu jelas merupakan suatu sumber diferensiasi. Semakin besar jumlah objek tahu kita, semakin besar kebutuhan kita untuk mengklasifikasikannya.

 

Namun demikian, betapapun klasifikasi terbukti sangat penting dalam ilmu dan bagi perkembangan ilmu, ilmu sering membuat klasifikasi tidak didasari atas pertimbangan benar atau salah, melainkan atas pertimbangan manfaat kegunaan, utilitas.

2.3       Pembedaan dan Perbedaan

            Apabila dua hal serupa dalam hakikatnya, hubungan antara keduanya disebut “identitas logis”. Dan manakala dua hal sama dalam kuantitas, maka hubungannya disebut dengan “ekualitas”.

Dua hal identik itu benar-benar satu. Sedangkan dua hal dikatakan serupa, itu benar-benar dua. Identitas adalah hubungan logis. Sedangkan keserupaan adalah hubungan riel.

Pembagian pembedaan

Ada beberapa bentuk-bentuk dari pembedaan, antara lain :

  • Pembedaan riel
  • Pembedaan logis
  • Pembedaan formal
  • Pembedaan intrinsic virtual
  • Pembedaan modal

 

2.4      Definisi

Pengantar

Dalam proses pembicaraan atau membaca, tidak jarang orang bertemu dengan kata-kata yang artinya tidak menjadi jelas melalui konteksnya. Untuk memahami artinya dibutuhkan defenisi sehingga salah satu tujuan defenisi adalah menambah perbendaharaan bahasa bagi orang yang tidak tahu tersebut.

Tujuan berikut dari defenisi adalah untuk menghapus kedwiartian kata, khususnya kata-kata kunci, agar tukar pikiran tidak menjurus pada kesalahan berpikir dan tidak sekedar bersifat verbal.

Defenisi berasal dari kata Latin : definire, yang berarti : menandai batas-batas pada sesuatu, menentukan batas, memberi ketentuan atau batasan arti. Secara umum defenisi menjelaskan apa yang dimaksud dengan suatu term. Pembagian utama defenisi, yakni defenisi nominal dan defenisi riel.

Defenisi nominal

Defenisi nominal adalah sekedar menjelaskan kata, bukan menjelaskan hal yang ditandai dengan kata. Untuk membuat defenisi nominal dapat ditempuh dengan berbagai jalan, misalnya :

  1. Dengan sekedar memberikan sinonim term tersebut atau sekedar memberikan kata-kata yang lebih dimengerti. Misalnya : memeram adalah menyimpan buah-buahan yang belum masak agar lekas masak.
  2. Dengan membuat pembedaan berbagai arti dari suatu term yang samar-samar, berarti dua atau lebih.
  3. Dengan memberikan asal-usul kata. Misalnya : monokromasi adalah satu warna.
  4. Dengan menunjuk dan menjumlah beberapa atau semua benda yang ditandai.
  5. Dengan memintakan perhatian pada artinya yang biasa.
  6. Dengan memberikan contoh.
  7. Dengan jalan menguraikan. Misalnya : gajah adalah hewan yang sangat besar, telinganya sangat lebar,dst.

 

Penggunaan defenisi nominal

Dipakai pada permulaan suatu pembicaraan, diskusi, perdebatan. Guna menunjukkan apa yang menjadi pokok pambicaraan, diskusi, dan perdebatan.

 

Hukum definisi nominal

  1. Apabila suatu kata hanya mempunyai suatu arti tertentu, hal ini selalu harus dipegang. Juga kata-kata yang biasa diketahui orang, hendaknya dipakai juga menurut arti dan pengertiannya yang biasa.
  2. Jangan pernah menggunakan suatu term (kata) yang anda tidak dapat memberikan arti dan pengertiannya yang tepat dan terumus jelas.
  3. Apabila arti dan pengertian suatu term menjadi suatu objek pembicaraan, definisi nominal atau defenisi taraf pertamanya harus sedemikian rupa sehingga dapat secara tetap diakui oleh kedua pihak yang berdiskusi atau berdebat.

 

Defenisi riel

Defenisi riel bukanlah sekedar penjelasan term, tetapi penjelasan tentang hal yang ditandai dengan term tersebut. Ia memperlihatkan struktur sesuatu.

Analisis adalah metode yang sangat penting dalam defenisis riel. Analisis adalah penguraian kedalam bagian-bagian. Sedangkan bagian dapat berupa bagian fisik atau bagian meta fisik.

Pembagian defenisi riel, yaitu:

  • Defenisi Esensial

Defenisi esensial adalah penjelasan melalui bagian-bagian esensial suatu hal. Bagian – bagian tersebut antara satu samalain dapat berbeda secara riel atau hanya berbeda dalam pikiran kita saja. Oleh karena itu defenisi esensial dapat dibagi lagi mejadi defenisi esensial fisik dan defenisi esensial metafisik.

  1. Defenisi esensial metafisik terdiri dari genus terdekat dan diferensia spesifik. Misalnya : manusia adalah hewan yang berakal budi. Defenisi ini memberi jawaban yang mendasa, radikal, atas sesuatu.
  2. Defenisi esensial fisik menunjukkan bagian- bagian suatu benda yang mewujudkan esensinya. Tetapi bagian – bagian tersebut satusama lain berbeda secara riel.
  • Defenisi deskriptif

Mirip defenisi esensial metafisik, defenisi deskriptif menunjukkan sebagian ciri-ciri yang dimiliki hal yang harus di defenisikan dan suatu tanda khas yang membedakannya dari semua lainnya yang terdapat dalam golongan yang sama. Ada empat jenis definisi deskriptif.

  1. Defenisi asli menerangkan benda yang harus didefenisikan dengan menggunakan salah satu atau beberapa cirinya.
  2. Defenisi kausal menjelaskan sesuatu melalui sebab ekstrinsiknyayang asli, terutama melalui tujuannya.
  3. Defenisi genetik menjelaskan bagaimana suatu hal muncul atau terbit.
  4. Defenisi aksidental menjelaskan sesuatu dengan menunjuk dan menjumlah accidentia (logis) yang banyak sekali jumlahnya itu sehingga semua accidentia tersebut hanya dapat diterapkan pada sesuatu tersebut.

 

Hukum defenisi (riel)

  1. Defenisi singkat, tepat, jangan memuat kelebihan sesuatu  pun.
  2. Defenisi mutlak konvertible.subjek dan predikat harus dapat dibalik dengan pas.
  3. Definisi harus jelas, harus lebih jelas dari hal yang harus didefenisikan, sehingga orang dapat dengan cepat mengerti artinya, apa yang tercakup didalamnya, apa yang disingkirkan, atribut-atribut apakah yang termasuk pada hal yang harus di defenisikan tadi.

 

Beberapa posisi tentang defenisi

Ada 3 kategori pandangan utama,yakni pandangan esensialis, preskriptif, dan linguistik.

Dalam pandangan esensialais, defenisi dapat memberikan informasi yang lebih eksak dan pasti daripada statement yang deskriptif sifatnya.

Posisi pandangan preskripti yang berpendapat bahwa defenisi adalah semacam pengaturan, tampil dalam wajah nominalis dan formalis.

Dalam posisi pandangan linguistik merumuskan bahwa defenisi sekedar sebagai pernyataan yang bersifat kebahasaan, dan defenisi adalah sekedar laporan tentang pemakaian bahasa.

 

Defenisi dalam ilmu

Pentingnya defenisi dalam ilmu dapat terlihat jelas dari hakikat ilmu tersebut sendiri. Ilmu adalah bentuk pengetahuan yang telah menentukan batas-batasnya. Setiap ilmu adalah fragmentaris, tidak hanya dalam arti ekstensif, tetapi juga dalam arti intensif.

Pemakaian defenisi secara ketat di tuntut di dalam ilmu alam yang pada dasarnya selalu mengacuh pada metode matematisdengan tanda-tanda ideografisnya yang sejak semula telah di temukan artinya.

 

Defenisi didalam ilmu sosial sangat berbeda dengan ilmu alam, karena seluk beluk hubungan yang harus dipaparkan oleh seorang ilmuan sosial adalah jauh lebih rumit, dan semuanya itu tidak gampang direduksikan kedalam bentuk-bentuk yang sederhana.

Apabila seorang kimiawan membutuhkan untuk memberi defenisi katalis, maka ia membuatnya dalam lambang-lambag, jika ia mau memakai kata-kata tersebut seluruhnya menunjukan suatu hal konkret tertentu. Lain halnya jika seorang ilmuan sosial harus memberi defenisi ‘ kekerabatan’, atau ‘prasangka’, atau ‘ kemauan’,ia segera akan dihadapkan dengan selukbeluk konotatif dari kata-kata tersebut dengan suatu gejala yang begitu rumit, yang luar biasa sulit untuk dianalisis.

Jelas perbedaan cara-cara membuat defenisi. Ilmu alam henya mengenal satu cara, yakni dengan mengorbankan sementara dengan selukbeluk definiendum untuk mencapai keabstrakan dan hingga dapat dimanipulasikan; sedangkan ilmu sosial dalam memberikan defenisi memakai banyak cara, kerapian rumusan dikorbankan demi mempertahankan seluk beluk.

 

2.5       Argumentasi

Pengantar

Modus sciendi  ketiga adalah argument dan argumentasi. Argument adalah kata lain untuk pemikiran, penalaran. Sedangkan argumentasi lebih menunjukkan metode pemikiran, lebih-lebih apabila mencakup banyak langkah.

Pemikiran, mencakup beberapa langkah atau banyak langkah, adalah suatu proses mental yang di dalamnya kita bergerak dari apa yang diketahui hal yang tidak diketahui. Oleh karena itu, kita dapat membedakan tiga hal dalam pemikiran:

  1. Hal yang diketahui
  2. Hal yang tidak diketahui
  3. Proses mental dari yang pertama ke yang kedua

 

 

 

Prinsip argumentasi: prinsip material dan formal

Semua pemikiran membutuhkan prinsip-prinsip tertentu, yaitu hal-hal yang harus diketahui dan diakui sebelumnya. Tanpa prinsip-prinsip ini, pemikiran sama sekali tidak mungkin dapat dilaksanakan. Disebut prinsip-prinsip karena proses pemikiran bertolak belakang dengan mereka, dan kesimpulan terbit dari mereka.

Dalam member definisi, kita kadang-kadang menyentuh pengertian-pengertian yang dengan tegas tidak dapat didefinisikan, demikian juga dalam argumentasi kita harus menumpukkan diri pada prinsip-prinsip dasar dan pertama yang tidak dapat dibuktikan oleh proses pemikiran mana pun juga.

Prinsip-prinsip material adalah term-term atau proposisi-proposisi (premis-premis), sedangkan prinsip formal adalah kebenaran-kebenaran yang menjamin terlaksananya proses pemikiran yang benar.

Apa-apa yang harus kita ketahui sebelumnya tentang prinsip-prinsip ini? Apa yang harus diakui oleh kedua belah pihak yang berbicara supaya dapat mencapai kesimpulan?

  1. Mengenai term-term: mengenai S kita paling sedikit harus mengetahui definisi nominalnya. Selain itu, kita harus tahu betul bahwa hal itu ada (kecuali, tentu saja, jika justru eksistensinya dipersoalkan). Mengenai P dan terminus medius, definisi rielnya harus diketahui
  2. Premis-premisnya harus diakui kepastiannya atau paling sedikit mungkin
  3. Prinsip-prinsip formal harus paling sedikit diketahui secara implicit dan pasti. Sebab, tanpa prinsip-prinsip formal tersebut, argumentasi tidak akan mempunyai kekuatan sama sekali

 

Macam-macam argumentasi

  • Demonstrasi dan argument probable

Demonstrasi adalah suatu argument yang benar yang bertolak dari premis-premis yang pasti dan eviden. Sedangkan argument probable adalah suatu argument yang benar yang dari premis-premis yang probable (mungkin).

Perbedaannya juga nampak pada kesimpulan. Kesimpulan suatu demonstrasi adalah pasti dan eviden, sedangkan kesimpulan suatu argument probable hanya dapat membawa kita pada kesimpulan yang probable juga, yakni tidak pasti.

  • Argumentasi langsung dan tidak langsung

            Argumentasi tidak langsung membuktikan suatu proposisi dengan menunjukkan bahwa kontradiksinya proposisi tersebut adalah salah atau tidak masuk akal. Biasanya berbentuk hipotesis dan bertumpu pada prinsip yang jelas-dengan-sedirinya, yakni apabila salah satu proposisi kontradiktoris itu palsu, maka yang lainnya benar. Argumentasi langsung membuktikan suatu proposisi tanpa menggunakan cara yang berputar itu.

Semua proposisi yang benar dapat dibuktikan secara tidak langsung. Namun pembuktian tidak langsung mempuyai kelemahan yaitu, hanya menunjukkan bahwa suatu proposisi tidak dapat disangkal menurut akal budi, tetapi tidak menunjukkan mengapa proposisi tadi harus diakui kebenarannya. Oleh karena itu, pembuktian tidak langsung disebut argument tidak sempurna.

Akrab hubungannya dengan pembuktian tidak langsung adalah:

  1. Argumen negative, yang sekedar menunjukkan bahwa suatu penuturan (keterangan) belum atau tidak dapat dibuktikan
  2. Argumentum ad hominem, yang bertolak dari pengakuan lawan adakah pengakuan-pengakuan tadi benar atau palsu
  3. Retorsi, yang menunjukkan kepada lawan bahwa ia berlawanan asas dengan dirinya sendiri
  • Argumentasi a priori dan a posteriori

Premis-premis secara logis selalu mendahului (prior) keseimpulan. Sebab premis-premis merupakan alasan logis mengapa kita setuju dengan kesimpulan. Akan tetapi, hal-hal yang ditunjuk oleh premis dalam kenyataannya dapat mendahului atau mengikuti hal yang dinyatakan dalam kesimpulan. Apabila mereka mendahului, pemikiran disebut a priori. Apabila mengikuti, pemikirannya disebut a posteriori.

BAB III

KESIMPULAN

            Secara mendasar, sistematika kerja akal budi manusia mempunyai 3 cara yaitu, membagi (distinct), memberikan ketentuan, dan menyusun pemikiran.

Ada beberapa jenis-jenis keseluruhan :

  • Keseluruhan aksidental
  • Keseluruhan esensial
  • Keseluruhan universal
  • Keseluruhan integral

Ada pun 2 macam pembagian, yaitu :

  1. Pembagian esensial
  2. Pembagian aksidental

Hukum-hukum pembagian/klasifikasi

  1. Pembagian haruslah utuh/adekuat
  2. Pembagian haruslah mengekslusifkan yang lainnya/idak boleh bertumpukan, tumpang tindih.
  3. Pembagian haruslah dilakukan secara rapi. Hokum ini  lebih-lebih harus diperhatikan apabila kita hendak mengadakan sub-pembagian.

Ada beberapa bentuk-bentuk dari pembedaan, antara lain :

  • Pembedaan riel
  • Pembedaan logis
  • Pembedaan formal
  • Pembedaan intrinsic virtual
  • Pembedaan modal

 

Pembagian utama defenisi, yakni defenisi nominal dan defenisi riel.

Defenisi nominal dipakai pada permulaan suatu pembicaraan, diskusi, perdebatan. Guna menunjukkan apa yang menjadi pokok pambicaraan, diskusi, dan perdebatan.

Hukum definisi nominal

  1. Apabila suatu kata hanya mempunyai suatu arti tertentu, hal ini selalu harus dipegang. Juga kata-kata yang biasa diketahui orang, hendaknya dipakai juga menurut arti dan pengertiannya yang biasa.
  2. Jangan pernah menggunakan suatu term (kata) yang anda tidak dapat memberikan arti dan pengertiannya yang tepat dan terumus jelas.
  3. Apabila arti dan pengertian suatu term menjadi suatu objek pembicaraan,

definisi nominal atau defenisi taraf pertamanya harus sedemikian rupa sehingga dapat secara tetap diakui oleh kedua pihak yang berdiskusi atau berdebat.

 

Pembagian defenisi riel, yaitu:

  • Defenisi Esensial
  • Defenisi deskriptif

 

Hukum defenisi (riel)

  1. Defenisi singkat, tepat, jangan memuat kelebihan sesuatu  pun.
  2. Defenisi mutlak konvertible.subjek dan predikat harus dapat dibalik dengan pas.
  3. Definisi harus jelas, harus lebih jelas dari hal yang harus didefenisikan, sehingga
  • orang dapat dengan cepat mengerti artinya, apa yang tercakup didalamnya, apa yang disingkirkan, atribut-atribut apakah yang termasuk pada hal yang harus di defenisikan tadi.

Prinsip argumentasi: prinsip material dan formal

Macam-macam argumentasi

  • Demonstrasi dan argument probable
  • Argumentasi langsung dan tidak langsung
  • Argumentasi a priori dan a posteriori

 

DAFTAR PERTANYAAN

Nama: Ayu Azhariyah

NIM: F91108261

  1. Jelaskan maksud membagi, memberikan ketentuan, serta menyusun pemikiran dalam logika!

Jawaban:

Dalam logika, membagi berarti menunjuk dan menjumlah secara jelas perbedaan-perbedaan dari bagian-bagian suatu keseluruhan logis. Dan bagian adalah hal-hal yang menyusun suatu keseluruhan. Maka keseluruhan dapat dibagi-bagi. Sehingga diperlukan adanya pembagian serta pembedaan dan perbedaan.

Dalam proses pembicaraan atau membaca, tidak jarang orang bertemu dengan kata-kata yang artinya tidak menjadi jelas melalui konteksnya. Harus ada ketentuan-ketentuan yang mengatur sehingga tidak terjadi kedwiartian kata, khususnya kata-kata kunci, agar tukar pikiran tidak menjurus pada kesalahan berpikir dan tidak sekedar bersifat verbal.Untuk memahami artinya dibutuhkan defenisi.

Dalam logika menyusun pikiran sama saja dengan kita melakukan penalaran dengan menggunakan argumentasi.

 

  1. Sebutkan beberapa jenis keseluruhan dan jenis pembagian!

Jawaban:

-Keseluruhan aksidental                                 -Pembagian esensial

-Keseluruhan esensial                                     -Pembagian aksidental

-Keseluruhan universal

-Keseluruhan integral

 

  1. Sebutkan hukum-hukum pembagian atau klasifikasi!

Jawaban:

  • Pembagian haruslah utuh/adekuat
  • Pembagian haruslah mengekslusifkan yang lainnya/idak boleh bertumpukan, tumpang tindih.
  • Pembagian haruslah dilakukan secara rapi.

 

 

 

  1. Jelaskan keterkaitan pembagian dan ilmu!

Jawaban:

Pembagian begitu lengket pada kegiatan intelek manusia bahkan alam begitu jelas merupakan suatu sumber diferensiasi. Namun demikian, ilmu sering membuat klasifikasi tidak didasari atas pertimbangan benar atau salah, melainkan atas pertimbangan manfaat kegunaan, utilitas.

  1. Sebutkan pembagian pembedaan!

Jawaban:

  • Pembedaan riel
  • Pembedaan logis
  • Pembedaan formal
  • Pembedaan intrinsic virtual
  • Pembedaan modal
  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan identitas logis dan ekualitas!

Jawaban:

Apabila dua hal serupa dalam hakikatnya, hubungan antara keduanya disebut “identitas logis”. Dan manakala dua hal sama dalam kuantitas, maka hubungannya disebut dengan “ekualitas”.

  1. Apa yang dimaksud dengan definisi nominal dan definisi riil?

Jawaban:

Definisi nominal adalah sekedar menjelaskan kata, bukan menjelaskan hal yang ditandai dengan kata. Sedangakan definisi riil bukanlah sekedar penjelasan term, tetapi penjelasan tentang hal yang ditandai dengan term tersebut dan memperlihatkan struktur sesuatu.

  1. Sebutkan hukum-hukum definisi!

Jawaban:

  • Defenisi singkat, tepat, jangan memuat kelebihan sesuatu  pun.
  • Defenisi mutlak konvertible.subjek dan predikat harus dapat dibalik dengan pas.
  • Definisi harus jelas, harus lebih jelas dari hal yang harus didefenisikan, sehingga orang dapat dengan cepat mengerti artinya, apa yang tercakup didalamnya, apa yang disingkirkan, atribut-atribut apakah yang termasuk pada hal yang harus di defenisikan tadi.
  1. Jelaskan perbedaan argument dan argumentasi!

Jawaban:

Argumen adalah kata lain untuk pemikiran, penalaran. Sedangkan argumentasi lebih menunjukkan metode pemikiran, lebih-lebih apabila mencakup banyak langkah.

  1. Sebutkan macam-macam argumentasi!

Jawaban:

  • Demonstrasi dan argument probable
  • Argumentasi langsung dan tidak langsung

Argumentasi a priori dan a posteriori

This entry was posted in Logika. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s