Suku Bima

SUKU BIMA
Suku Bima
Letak : Nusa Tenggara Barat
Populasi : 500.000 jiwa
Bahasa : Bima
Suku Bima adalah salah satu suku yang terdapat di Nusa Tenggara Barat. Suku ini menghuni belahan timur Pulau Sumbawa, utamanya sebagian Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima. Mereka sering disebut Suku Mbojo dan disamping Pulau Sumbawa, mereka juga ditemui di Pulau Sangeang, Pulau Komodo, Pulau Rinca hingga pesisir barat Pulau Flores. Suku Bima tinggal di daerah dataran rendah, wilayah kabupaten Bima, Dongo, dan Sangiang, provinsi Nusa Tenggara Barat. Suku Bima memiliki hubungan dengan suku Sasak yang tinggal berdekatan di provinsi Nusa Tenggara Barat. Kebanyakan dari mereka bermukim di sekitar 5 km atau lebih dari pesisir pantai. Mereka juga disebut suku “Oma” (berpindah-pindah) karena mereka sering hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain karena lingkungan alam tempat tinggal suku Bima yang berbeda-beda. Di daerah utara Lombok tanahnya sangat subur sedangkan sebelah selatan tanahnya gundul dan tidak subur.
Pemukiman orang Bima biasa disebut Kampo atau Kampe yang dikepalai oleh kepala desa yang disebut ncuhi, ampu, atau gelarang. Ia dibantu oleh golongan kerabat yang tua dan dihormati. Kepemimpinan diwariskan turun temurun di antara keturunan nenek moyang pendiri desa.
Kota Bima tempat suku Bima banyak bermukim secara histories mempunyai hubungan yang erat dengan Kerajaan GOwa-Tallo. Sedangkan mengenai penduduk asli dari daratan Bima adalah suku Donggo. Suku lain yang merupakan generasi baru dari suku Bima adalah suku pendatang dari Gowa-Tallo yang membawa amanat persaudaraan melalui perjuangan Belanda pada abad ke-14 itulah yang lalu menetap di Bima dan disebut Dou Mbojo (Orang Bima). Suku inilah yang sekarang ini lebih menyebut dirinya sebagai suku asli Bima.
Suku ini awalnya menganut kepercayaan animisme, lalu perlahan tertekan oleh agama Islam. Kepercayaan asli orang Bima disebut ”Pare no Bongi, Yaoti” yang maksudnya kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Roh yang ditakuti ialah Batara Gangga sebagai dewa yang memiliki kekuatan yang sangat besar dan dianggap sebagai penguasa, Batara Guru, Idadari Sakti dan Jeneng, Roh Bake dan Roh jin yang tinggal di pohon, gunung yang sangat besar dan berkuasa mendatangkan penyakit, bencana, dan lain-lain. Mereka juga percaya adanya sebatang pohon besar di Kalate yang dianggap sakti, Murmas tempat para dewa, Gunung Rinjani tempat tinggal para Batara dan dewa-dewi. Sub-sukunya yang disebut Donggo masih menganut kepercayaan atau sebagian menganut Kristen begitu pula dengan Bima bagian timur. Sedangkan Suku Bima umumnya menganut agama Islam. Pengenalan agama Islam awalnya dari pedagang Jawa dan Gujarat. Namun pengaruhnya tidak dalam cakupan yang luas hingga pada masa mulai kuatnya ekspedisi Belanda, Kerajaan Gowa-Tallo memutuskan mengirimkan pasukan untuk mematahkan serangan mereka melalui perairan Bima dan LOmbok. Intervensi ini merupakan tapak baru bagi perkembangan silsilah suku Bima. Seiring dengan pengaruh agama Islam yang lebih intensif dari ulama Kerajaan Gowa-Tallo, maka gelar raja diganti menjadi sultan.
Sampai saat ini, perkembangan Islam di Bima semakin pesat. Hal ini terlihat dari kepedulian pemerintah terhadap solat Jumat yang wajib bagi para kaum adam. Pemerintah setempat mengeluarkan Perda no. 2 tahun 2002 tentang program Jumat Khusyu. Program ini mulai diterapkan dan desa Cengu Kecamatan Belo sebagai daerah percontohannya. Penerapan program ini pun mulai terlihat di suatu daerah di daerah Goa Kadole di dusun Kadole Kelurahan Rabadompu Bima. Ketika adzan Jumat dikumandangkan, mesjid-mesjid di Bima yang hampir semua berda di pinggir jalan besar dan memiliki portal menutup portal-portalnya menutupi jalan. Agar semua kendaraan yang melintas bisa berhenti dan bersiap untuk melakukan sholat jumat dahulu.
Dari Jaman dahulu mata pencaharian utamanya bertani. Sempat menjadi segitiga emas bersama Makassar dan Ternate. Oleh karena itu, hubungan Bima dan Makassar dekat juga karena putra putrinya saling dinikahkan. Selain itu, mereka juga beternak kuda dan berburu. Suku Bima terkenal dengan kudanya yang kecil tapi kuat. Sejak abad ke-14 kuda Bima telah diekspor ke pulau Jawa. Tahun 1920 daerah Bima telah menjadi tempat pengembangbiakan kuda yang penting. Mereka memiliki sistem irigasi yang disebut ponggawa. Para wanita Bima membuat kerajinan anyaman dari rotan dan daun lontar, juga kain tenunan ”tembe nggoli” yang terkenal.
Tenaga kesehatan (masyarakat hanya percaya kepada para dukun), tenaga pendidikan dan penyuluhan pertanian sangat diperlukan oleh orang Bima. Komoditi pertanian yang diusahakan oleh pengusaha daerah mulai terdesak oleh pengusaha kuat. Kendala pemasaran juga sangat terasa. Semangat wiraswasta yang dimiliki leluhur perlu dihidupkan di kalangan generasi muda.
Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Suku Bima adalah bahasa Bima dimana kebanyakan katanya diakhiri dengan huruf hidup. Salah satu kata yang paling sering diucapkan bagi saudara yaitu ermakna salam, doa, atau menunjukkan rasa empati adalah ‘Kalembo ade’. Bahasa Bima terdiri atas berbagai dialek, yaitu dialek Bima, Bima Dongo, dan Sangiang. Bahasa yang mereka pakai ini termasuk rumpun bahasa Melayu Polinesia. Pengaruh Majapahit menyebabkan sebagian bahasa Jawa kuno terkadang masih digunakan sebagai bahasa halus di Bima.
Para wanita masyarakat Bima dan Dompu memakai baju Poro, baju polos tanpa hiasan, berkain sarung palekat yang ditenun dengan hiasan corak kotak-kotak kecil. Terkadang mengenakan rimpu (kerudung penutup rambut). Selain itu, karena terpengaruh kebudayaan Islam, kebanyakan wanita Islam Bima menggunakan Rimpu. Rimpu adalah sarung yang dililitkan dikepala menutupi setengah badan pengganti jilbab. Para wanita sering menggunakannya ketika ingin keluar rumah. Adapun para lelakinya memakai sarung palekat, disebut tembe ngguli, berkemeja lengan pendek atau panjang, dan kadang kala memakai ikat kepala yang dinamai sambolo songke. Akan tetapi, untuk acara-acara adat seperti upacara potong gigi, kematian, perkawinan dan sebagainya, masyarakat Bima merancang busana adat tersendiri.
Untuk menghadiri upacara adat inisiasi, potong gigi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, kaum wanita masyarakat Bima mengenakan busana adat yang selengkapnya terdiri dari baju kain panjang, berbagai aksesori, dan alas kaki. Bajunya disebut baju poro yang dibuat dari kain tipis namun tidak tembus pandang, biasanya berwarna hitam, biru tua, coklat tua, ungu. Bersarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Aksesorinya berupa gelang tangan, anting-anting, dan semacamnya. Namun, tidak boleh berlebihan. Kaum prianya memakai kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang hitam, putih, atau warna-warna cerah lainnya. Bersarung pelekat tembe kafa mbali pida, dipinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Dan lelaki dewasa biasanya menyengkelitkan pisau mone (pisau khas Bima) pada salampe di bagian depan badan.
Busana pengantin suku Bima
Pakaian pengantin yang banyak dipakai masyarakat Bima sekarang adalah jenis busana tradisional yang dulu hanya untuk golongan bangsawan dan golongan menengah saja. Busana pengantin golongan menengah dan golongan bangsawan Bima pada dasarnya hampir tidak berbeda. Hanya saja kelengkapan busana atau aksesori yang dipakai pengantin dari golongan menengah relatif leih sedikit sehingga tampil lebih sederhana.
Untuk pengantin wanita bangsawan mengenakan baju poro rante yang dibuat dari kain halus berwarna merah dengan taburan cepa benang emas diseluruh permukaan baju dan memakai tembe songke, sarung songket. Selepe, ikat pinggangnya, berwarna keemasan. Tangan kanannya memegang pasapu (sapu tangan) dari kain sutra bersulamkan benang perak. Rambutnya disanggul, diberi hiasan unik yang dinamai Karaba. Karaba dibuat dari gabah (bulir padi yang belum dikupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak sehingga mekar dan nampak warna putih berasnya secara dominan. Karaba ini kemudian ditempelkan pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya nampak mencolok di atas hitamnya rambut. Tatanan rambut berhiaskan karaba ini disebut wange. Sedangkan aksesori lainnya yang juga berwarna keemasan berupa bangka dondo (anting-anting panjang) dan ponto (gelang tangan).
Untuk pengantin pria mengenakan baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama, yang berhiaskan cepa dan sulaman benang emas. Kemudian siki (kain songket), tombe songke, dipakai seperti memakai sarung, sebatas lutut. Penahan siki adalah baba, kain berukuran lebih besar ketimbang ikat pinggang biasa yang juga berfungsi untuk menyelipkan keris. Di atas baba dilingkarkan sepele mone (ikat pinggang dari logam berhiaskan sulaman benang perak diselipkan pada baba). Baju pengantin laki-laki lainnya adalah karoro,semacam jubah hitam dihiasi cepa berwarna keemasan. Mahkotanya disebut siga. Namun ada tata cara yang agak khusus untuk pemakaian kororo yakni mempelai pria tidak boleh memakai kororo sekaligus dengan siki. Kororo biasanya hanya dimiliki oleh para sultan dan para petinggi kesultanan Bima.
Gaun pengantin suku Bima mirip dengan baju bodo Suku Makassar. Perhelatan pesta pernikahanlah yang akan memperlihatkan perbedaan yang cukup menonjol. Suku Bima terbilang lebih sederhana dalam melaksanakan prosesi pernikahan disbanding Suku Makassar yang biasanya direpotkan dengan uang panaik.
Untuk silsilah keluarga, saudara ayah atau ibu yang lebih tua dipanggil dengan sebutan Ua’ sedangkan saudara ayah atau ibu yang lebih muda dipanggil dengan sebutan bibi atau om. Dalam keluarga bila mempunyai anak lelaki dipanggil one atau mone yang berarti laki-laki dan siwe atau iwe untuk perempuan yang berarti perempuan sebagai nama kecilnya walaupun mereka sudah memiliki nama aslinya sendiri.
Rumah adat suku Bima merupakan rumah panggung yang biasanya di depan rumah sebelah kanan diletakkan Jompa atau uma Lengge (lumbung padi) sebagai pertanda kekayaan pemilik.
Seni tari di Bima disebut tari manca, tari gandrung, kayu sandangan, elek, tanduk, dinoq alir, rudat dan tari preiseian yakni sejenis tarian perang. Dalam tarian preiseian setiap pemain membawa perisai dan bersenjata sepotong tongkat rotan. Sambil menari dengan gerakan pencak silat yang lincah, mereka saling memukul, hingga kadang2 mengeluarjan darah. Konon tarian ini mengandung unsur magic, sehingga terkena pukulan rotan tidak terasa apa-apa.
Di bidang seni musik, di Nusa Tenggara Barat dikenal musik tradisional berupa gamelan gandrung, cupak, gong bale, gendang bima dan gambus. Di daerah Lombok juga terdapat kesenian wayang kulit, tapi ceritera yang dibawakan adalah kisah-kisah menak. Adapun kesenian yang diadakan pada waktu khitanan atau perkawinan adalah kesenian gantao. Gantao adalah kesenian tradisional yang diiringi dengan alat musik tradisional dan diiringi oleh dua atau empat org yg melakukan aksi silat
Dou Mbojo atau orang Bima memiliki budaya yaitu Maja Labodahu yang artinya malu dan takut. Maksud malu dan takut di sini adalah malu dan takut ketika berbuat kesalahan dalam berhubungan sesama manusia maupun berhubungan vertikal dengan Yang Maha Kuasa. Orang Bima umumnya terbuka untuk dunia luar. Dahulu, sekolah dianggap sebagai perusak adat. Namun, saat ini anak-anak disekolahkan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Mereka cenderung beranggapan segala yang berasal dari luar itu baik, terutama yang menyangkut kebudayan dan teknologi. Cara hidup dan berpikir mereka sudah mengikuti pola modern.
Ketika mereka berada di kampung orang lain, orang Bima, walaupun sampai berpuluh tahun, bukan berarti melupakan sepenuhnya keberadaan keluarga di kampung asal. Sebelum ramadhan biasanya mereka yang beragama Islam pergi bertamasya bersama keluarga atau berziarah kubur. Dalam keluarga orang Bima khususnya yang beragama Islam, apabila ada bayi yang baru lahir, pada saat pemotongan rambut bayi, sang bayi dibuatkan rumah-rumahan dari pohon tebu dan diletakkan didalamnya agar nanti bisa hidup lebih baik dan sejahtera.

This entry was posted in Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s