Weedflower (Bunga Liar)

 

Judul: Weedflower (Bunga Liar)

Pengarang: Cynthia Kadohata

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 272 halaman

 

Novel ini brejudul Weedflower (Bunga Liar) yang telah dialihbahasakan oleh Lanny Murtihardjana. Novel ini diilhami oleh pengalaman orang-orang Amerika keturunan Jepang yang diasingkan di Pusat Relokasi Sungai Colorado pada masa Perang Dunia II. Novel ini menceritakan kisah tentang gadis berusia dua belas tahun bernama Sumiko yang telah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya yang meninggal dalam kecelakaan. Sumiko yang merupakan warga Amerika keturunan Jepang tinggal bersama Jiichan (kakek), paman, bibi, dua orang sepupu yang sangat memperhatikannya, dan seorang adik laki-laki kesayangannya bernama Tak-tak.

Selama berada di Amerika khususnya daerah tempat tinggalnya di California Selatan. Mereka seperti keluarga Jepang kebanyakan memiliki kebiasaan yang tidak dapat dihindari. Salah satu yang tergambar di novel ini adalah kebiasaan mandi di ofuro dengan mendahulukan yang lelaki tertua lalu diakhiri dengan perempuan termuda. Keluarga ini digambarkan sebagai keluarga yang bergerak dibidang perkebunan.

Tokoh Sumiko yang digambarakan sebagai gadis cilik yang lincah dan ulet. Dia diberi kepercayaan untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang tidak dapat diserahkan kepada orang lain yaitu memilah bunga-bunga. Sumiko sebagai warga negara keturunan Jepang ternyata mendapatkan perlakuan yang tidak biasa dari teman-teman bahkan tanah kelahirannya (Amerika) sendiri. Dia terintimidasi dengan adanya isu rasisme. Hal ini tergambar pada saat Sumiko menghadiri ulang tahun temannya yang keturunan kulit putih. Dia sempat tertampar atas perlakuan yang diterima hanya karena dia keturunan Jepang.

Ternyata hal itu hanya sebagian kecil dari bentuk diskriminasi terhadap warga keturunan Jepang. Setelah meletusnya Perang Dunia II yang juga melibatkan Amerika dan Jepang, semakin memperparah rasisme yang ada di Amerika pada saat itu. Bahkan Sumiko dan keluarganya beserta warga keturunan Jepang lainnya harus diasingkan ke daerah lain. Jiichan dan Paman yang pernah menjdai orang penting dalam organisasi kepemudaan Jepang ditangkap dan diasingkan ke tempat yang berbeda. Inilah awal dari perpisahan mereka. Sumiko, Bibi, kedua sepupunya, dan Tak-tak diasingkan ke dua tempat.

Di tempat kedua itulah kembali terjadi konflik. Di kamp kedua ini ternyata telah dihuni terlebih dahulu oleh orang-orang Indian. Ternyata mereka di pukul mundur oleh tentara sekutu Amerika agar para warga keturunan Jepang itu dapat tinggal disana. Terjadilah konflik baru antara Warga keturunan Jepang dengan orang Indian. Namun ternyata, Sumiko berhasil menjalin hubungan pertemanan dengan salah seorang Indian yang nantinya akan menjadi sahabatnya. Peperangan semakin sengit. Pengeboman yang terjadi di Pearl Harbour oleh tentara Jepang kembali menyulut penindasan terhadap Warga keturunan Jepang. Mereka yang telah berusia lebih dari tujuh belas tahun ikut wajib militer untuk membantu tentara Amerika. Inilah yang menjadi perpisahan kedua kalinya Sumiko  dengan keluarganya. Kedua sepupunya yang telah berumur di atas tujuh belas tahun memutusakan untuk ikut wajib militer. Bibinya pun telah memutuskan untuk mengikuti instruksi tentara Amerika untuk berpindah lokasi lagi. Itulah saat paling sentimental bagi Sumiko  karena dia akan kembali kehilangan apa yang telah coba dibangunnya. Kebun baru yang amat dia sayangi, lingkungan yang berusaha dia senangi, dan harus berpisah dari teman-temannya yang selama ini tidak pernah dia dapatkan sebelumnya. Di novel ini tidak diceritakan bagaimana kelanjutan kisah Sumiko setelah peristiwa tersebut.

Pengarang dalam menceritakan kisah Sumiko cukup memberikan gambaran tentang bagaimana warga Amerika keturunan Jepang menghadapi perlakuan yang tidak adil di tanah kelahirannya sendiri. Terjadi diskriminasi dan rasisme yang terlukis dengan jelas dari setting yang digambarkan pengarang.

Walaupun kisah Sumiko  yang kembali berpindah tempat tidak diceritakan secara lebih lanjut, namun gambaran tentang kegalauan seorang gadis cilik yang harus meninggalkan apa yang telah susah payah dibangunnya tergambar jelas.

This entry was posted in Resensi Buku, Sejarah Kesustaraan Jepang. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s