Kelembagaan Masyarakat Bahari

Pesantren Bahari Sebagai “Agent of Change” Revolusi Biru Di Indonesia

Salah satu komponen penting dalam program pembangunan kelautan dan perikanan adalah program pengembangan SDM agar lebih berkualitas, sehingga diharapkan mampu mengambil peran aktif dalam memanfaatkan sumber daya alam (SDA) yang kita miliki.
Selain melalui pendidikan formal bidang perikanan, baik pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi, maka pengembangan SDM pada institusi pendidikan khusus seperti pesantren menjadi sangat penting. Agar barisan SDM yang dapat berperan dalam pembangunan kelautan dan perikanan menjadi bertambah banyak serta merata terutama dikalangan penduduk wilayah pesisir yang umumnya sangat miskin.
Usaha-usaha pemerintah untuk membangun bangsa dengan menitik beratkan masyarakat pesisir sangat tepat. Namun memobilisir masyarakat pesisir, menggerakkan orang-orang pelaut untuk mengolah kekayaan laut yang tersedia bukanlah pekerjaan ringan dan mudah. Masyarakat pesisir yang sanggup berusaha sendiri, sanggup mencukupi kebutuhannya sendiri tidak dapat hanya digerakkan dengan aturan, perintah dan uang. Untuk waktu sesaat bisa saja berjalan, tetapi untuk jangka lebih jauh kelambanan-kelambanan akan terjadi. Dalam masyarakat pesisir, umumnya pengaruh kepemimpinan Kyai sebuah pesantren sangat amat besar. Sehingga peran kepemimpinan informil dalam menggerakkan usaha-usaha membangun masyarakat pesisir sangat dibutuhkan.

Menurut Dr. Sartono Kartodirjo dalam Protest Movement in Rural Java, Anti-Extortion Movements, menyebutkan bahwa pesantren dahulu dan juga sekarang merupakan lembaga yang sangat penting dalam membentuk kehidupan sosial, kulturil, dan keagamaan warga Muslim. Karena usaha membangun itu meminta ikut sertanya segenap rakyat, khususnya di desa pesisir, maka pemerintah sebenarnya berkepentingan dalam usaha mendorong kemajuan Pesantren Bahari. Bahkan kepentingan itu bukan saja dalam menggerakkan masyarakat di sekitar pesantren, melainkan lebih jauh dari itu. Pengaruh Kyai terhadap santri tidak terbatas pada saat para santri ini berada di pesantren. Pengaruh Kyai masih terasa setelah santri menyelesaikan pendidikannya, bahkan ikatan yang serupa dimiliki antara para santri. Sehingga pesantren menciptakan ikatan bersaudara di antara para santri tanpa dengan pemaksaan. Hal tersebut merupakan ciri kepribadian warga pesantren, yang telah dirumuskan oleh KH. Imam Zarkasyi dengan istilah “Panca Jiwa” pondok berupa : 1. Keikhlasan; 2. Kesederhanaan; 3. Persaudaraan; 4. Menolong diri sendiri; 5. Kebebasan. Jadi jangkauan pengaruh yang luas dan panjang ini perlu diperhatikan bagi usaha membangun masyarakat bahari secara keseluruhannya. Kedepan, perhatian secara sungguh-sungguh dari instansi pemerintah dan lembaga terkait diperlukan untuk mengadakan perbaikan bagi kemajuan Pesantren Bahari. Sebab peran Kyai sangat strategis untuk menggerakkan revolusi biru di Indonesia.

This entry was posted in Wawasan Sosial Budaya Bahari. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s