untitled

Sebuah gedung di tengah perkampungan rakyat biasa. Sekelilingnya dipagar tinggi,  memisahkan penghuninya dari masyarakat sekitarnya. Masyarakat petani kecil buah-buahan dengan pondok mereka yang serba sederhana.

Gedung mewah demikian tidak sendiri. Dia dibangun berserakan di antara kebun dan rumah penduduk rakyat kecil. Pemilik tanah yang telah hidup di atas tanahnya berketurunan mendapat pemberitahuan supaya menjual tanahnya menurut harga yang ditetapkan badan pembebasan tanah, yang  lebih rendah daripada harga pasar. Tanahnya dan tanah puluhan atau ratusan tetangganya hendak diolah sebuah perusahaan swasta menjadi pusat perumahan, perkantoran, supermarket atau hotel bertaraf internasional.

Demi pengembangan Jakarta, pemilik-pemilik tanah harus menyingkir. Selangkah demi selangkah penduduk pemilik tanah demikian digusur, pindah ke daerah pinggiran kota. Lagi, perusahaan swasta mengambil alih tanah yang mereka bayar. Mengapa pemilik t anah tidak diikutsertakan dalam pembagian keuntungan besar dari perusahaan real estate di Jakarta?

Jakarta adalahkota orang punya mobil. Orang yang naik sepeda atau berjalan kaki hampIr-hampir tidak diakui kehadirannya di jalan-jalan raya kota ini. Trotoar sudah kehilangan fungsinya. Orang-orang yang berjalan kaki tidak mendapat bagian jalan yang layak baginya. Pohon-pohon yang rindang banyak yang sudah ditebangi, hingga berjalan kaki di bawah terik sinar matahari merupakan suatu siksaan di kota Jakarta ini. Yang tidak punya mobil atau sepeda motor bergerak di kota Jakarta atas risiko sendiri. Naik bus berhimpitan, belum lagi kena copet. Naik oplet, helicak, minicar, bajaj harus tawar-menawar setiap kali kalau hendak dibawa ke arah khusus. Naik taksi terlalu mahal bagi kebanyakan orang, dan juga banyak supir taksi yang nakal, memasang tarif sendiri di luar meteran.

Jakarta adalah pusat birokrasi Republik Indonesia. Orang berurusan dengan birokrasi ini kalau tidak pandai mengatur nafas,  mudah mendapat serangan jantung atau darah tinggi. Meskipun jumlah pembesar birokrasi ini ribuan banyaknya di Jakarta, tetapi sangat sukar menemui mereka. Mereka selalu sibuk dengan rapat, dengan seminar, dengan lokakarya ini dan itu. Bapak masih rapat,  harap ditunggu adalah ucapan sekretaris yang menyambut tamu. Telah ada janji terlebih dahulu. Biasa juga dikatakan silahkan bapak telepon kembali. Bapak tidak dapat meninggalkan ruang rapat.

Jakarta adalah juga pusat perdagangan dan keuangan Republik Indonesia. Di sini kantor-kantor pemerintah dan kantor-kantor perdagangan serta pengusaha bahu-membahu. Penguasa dan pengusaha juga saling campur aduk, dan sering kita bingung pada suatu ketika, apakah kita lagi menghadapi penguasa atau kita lagi menghadapi pengusaha? (Prisma,1979)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s