Analisis Penulisan

Paragraf merupakan suatu bagian dari karangan yang di dalamnya terdiri atas beberapa kalimat yang selalu berkaitan satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh membentuk satu pikiran utama. Di dalam paragraf biasanya terdapat satu kalimat yang menjadi pokok pikiran dari paragraf tersebut yang biasa kita kenal dengan kalimat utama. Syarat paragraf yang baik adalah kepaduan paragraf, kesatuan paragraf, dan kelengkapan paragraf.

Paragraf bisa sesingkat satu kalimat, bisa juga sepanjang sepuluh kalimat atau lebih. Jumlah kalimat dalam satu paragraf bukan hal yang utama, namun panjang paragraf hendaknya cukup untuk mengembangkan ide pokok yang tertuang dalam kalimat topik (topic sentence). tulisan yang baik tidak hanya tergantung pada pemakaian bahasa yang gramatikal, tetapi juga pada penulisan paragraf yang baik. Paragraf merupakan satuan pikiran yang paling dasar dari suatu tulisan, sehingga jika paragraf disusun kurang menarik, akan hilanglah bobot tulisan secara keseluruhan.

Secara umum, paragraf terdiri dari tiga bagian: pembukaan, isi, dan penutup.  Pembukaan dituangkan dalam kalimat topic dan ide pengendali. Bagian isi berisi tubuh utama yang diuraikan dalam kalimat-kalimat penjelas. Karena itu, tubuh utama atau isi paragraf disebut juga kalimat pengembang (developing sentence). Bagian akhir dari paragraf disebur kalimat penyimpul. Kalimat ini merupakan: ringkasan, paraphrase, atau penegasan ulang kalimat topic dalam paragraf.

Secara lebih rinci, unsure-unsur yang diperlukan dalam satu paragraf meliputi: kalimat topic, kalimat-kalimat penunjang, kalimat penyimpul, keutuhan (unity), dan keruntuhan (coberence). Kalimat topik mengandung gagasan utama yang akan dikembangkan dalam paragraf. Kalimat topic berfungsi untuk menceritakan topic dalam paragraf dan memberikan batasan masalah yang akan dibahas dalam paragraf itu. Batasan masalah itu merupakan ide pengendali dalam paragraf. Ide pengendali inilah yang harus dijelaskan dalam kalimat-kalimat pengembang.

Pada wacana di atas, sebagian besar paragrafnya terdiri dari kurang tiga kalimat. Hal ini menunjukkan bahwa wacana tersebut menggunakan kalimat seminimal mungkin untuk menyampaikan maksud yang ingin disampaikan. Namun, hal ini menunjukkan pula bahwa wacana yang tersusun dari beberapa paragraf tersebut masih sulit untuk dikatakan tulisan ilmiah.

Wacana tersebut terdiri atas enam paragraf. Setiap paragraf saling berhubungan satu dengan yang lainnya walaupun terdapat kurang seimbangnya komposisi setiap paragraf. Pada paragraf kelima, jumlah kalimat kurang dapat dihitung disebabkan penggunaan tanda baca yang keliru sehingga memberikan pengertian yang berbeda.

One blogger laments, “All I see is that kid’s scribble” after looking at the six chosen designs. The bashing continues with comments such as, “Is the Ministry of Finance sleeping on the job?” and “Why would I want to collect these coins?”  One commenter kept it simple, stating, “That design is just awful.”

Penggunaan tanda baca yang keliru pada wacana ini sebagian besar berupa tanda petik. Berikut penjelasan singkat mengenai tanda petik serta fungsinya.

  1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. Contoh:
  • “Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”
  • Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia.”
  • Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
  • Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” diterbitkan dalam Tempo.
  • Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.
  • Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
  • Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.
  • Kata Tono, “Saya juga minta satu.”
    • Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “Si Hitam”.
    • Bang Komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tahu sebabnya.
  1. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Contoh:
  1. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Contoh:
  1. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
    Contoh:
  1. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat. Contoh:

Pada paragraf ketiga dan keempat, terdapat suatu kata yang diberikan tanda petik. Berikut paragrafnya.

P.3 If the bottom right coin in the photo made you do a double take, you’re not the only one. This design, one of six chosen by the Ministry of Finance, was created by a fourth grade elementary school student. It features a picture of a child patriotically waving Japan’s flag with the words “ganbaro nihon” (hang in there, Japan) written in what looks to be crayon.

P.4 The fact that the commemorative coin’s picture was drawn by a child makes no difference to an overwhelming amount of people. The sight of this “unsophisticated” drawing has stirred up a flurry of complaints on Japanese sites.

 

Pada paragraf ketiga, frase “ganbaro nihon” diberikan tanda petik yang menunjukkan frase yang memiliki arti khusus. Sedangkan pada paragraf keempat, kata “unsophisticated” diberikan tanda petik mungkin karena menunjukkan istilah ilmiah yang jarang digunakan. Apabila penggunaan tanda petik tersebut tidak ditujukan dengan maksud seperti tadi, maka penggunaan tanda petik tersebut kurang tepat.

Selain paragraf ketiga dan keempat, paragraf kelima juga banyak menggunakan tanda petik sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Namun, pada paragraf ini cukup memusingkan dikarenakan penulisan tanda petik untuk menunjukkan kalimat langsung kurang tergambar. Selain itu, tanda petik juga digunakan untuk menunjukkan ungkapan-ungkapan lain yang bersumber dari komentar (kalimat langsung).

One blogger laments, “All I see is that kid’s scribble” after looking at the six chosen designs. The bashing continues with comments such as, “Is the Ministry of Finance sleeping on the job?” and “Why would I want to collect these coins?”  One commenter kept it simple, stating, “That design is just awful.”

 

 

DAFTAR REFERENSI

http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_penulisan_tanda_baca#Tanda_Petik_.28.22….22.29

http://nugrahantiwindi.blogspot.com/2010/04/persyaratan-paragraf-yang-baik-kepaduan.html

http://rumahbahasaku.blogspot.com/2011/08/penulisan-kalimat-langsung.html

http://pekoprabowo.blogspot.com/2011/03/paragraf.html

This entry was posted in Analisis Wacana. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s