IAS 36 : PENURUNAN NILAI AKTIVA

BAB 1 PENDAHULUAN

Selama ini fenomena penurunan nilai aktiva diabaikan oleh historical cost accounting yang beranggapan bahwa nilai aktiva akan selalu dicatat berdasarkan harga peolehan, tanpa ada penyesuaian akibat penurunan nilai aktiva. Akibatnya, banyak nilai aktiva yang disajikan pada neraca tidak mencerminkan nilai sebenarnya. Pengabaian tersebut, sebenarnya juga terjadi karena keengganan manajemen melakukan penurunan nilai aktiva, sebab akan mengurangi laba dan nilai aktiva. Hal ini kemudian disadari oleh para penyusun standar akuntansi keuangan sehingga muncullah “Akuntansi  Penurunan Nilai Aktiva”.

Fair Value vs Historical Cost

                Banyak lembaga penyusun standar akuntansi keuangan telah melakukan terobosan dengan merubah paradigma akuntansi keuangan dengan mulai meninggalakan sikap “terlalu setia” terhadap historical cost atau sikap yang menganggap tidaka ada basis pengukuran yang lain yang dapat dihalalkan kecuali historical cost. Penggunaan nilai wajar atau fair vaue kini dianggap sebagai suatu solusi yang menjanjikan guna memenuhi kebutuhan akan informasi keuangan yang relevan.

Akuntansi Penurunan Nilai Aktiva

Secara teoritis, penurunan nilai aktiva dilakukan dengan membandingkan antara nilai yang dapat diperoleh kembali dengan nilai buku suatu aktiva yang digolongkan dalam suatu unit penghasil kas (untuk seterusnya akan disingkat dengan UPK) atau sekelompok UPK. Jika nilai yang dapat diperoleh kembali lebih rendah dari harga perolehan aktiva, maka selisih lebi kecil tersebut diakui sebagai “rugi penurunan nilai aktiva”, dan jika nilai yang dapat diperoleh kembali lebih tinggi dari nilai buku aktiva, maka penurunan nilai aktiva dianggap tidak terjadi.

Berdasarkan IAS 36, penurunan niali aktiva akan melewati tahapan-tahapan sebagai berikut:

 

 

Standar Akuntansi Keuangan Terkait

  1. IAS 16 dan IAS 38

Sejak tahun 2004, IAS 16 tentang ‘Property, Plant, and Equipment’ dan IAS 38 tentang    ‘Intangible Assets’ memberlakukan dua pendekatan yaitu historical cost dan revaluation model. Hingga saat ini DSAK belum memutuskan apakah akan mengadopsi IAS 16 dan IAS 38 yang baru sehingga belum membolehkan penggunaan revaluation model. Oleh sebab itu, saat ini penurunan nilai aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud masi didasarkan pada PSAK No. 48 tentang, “Penurunan Nilai Aktiva”  yang diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 2000.

  1. IFRS 3

IASB telah mengganti IAS 22 tentang ‘Business Combinations’ dengan IFRS 3 tentang hal yang sama. Berdasarkan IFRS 3, metode pooling of interest dilarang penggunaannya, sehingga semua penggabungan usaha wajib menggunakan metode purchase. Goodwill yang diperoleh dari suatu penggabungan usaha harus dialokasikan ke dalam UPK atau sekelompok UPK yang memperoleh sinergi dari transaksi penggabungan usaha tersebut. Setiap tahun akan dilakukan pengujian penurunan niali aktiva baik atas goodwill, aktiva tidak berwujud maupun aktiva berwujud. Pengujian dilakukan terhadap aktiva sebagai suatu UPK atau sekelompok UPK dalam suatu entitas bisnis.

 

 

 

 

 

BAB 2 AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN TIDAK BERWUJUD

Penurunan niali aktiva selain aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud tidak mengacu kepada IAS 36 karena telah diatur dengan standar akuntansi keuangan tersendiri seperti aktiva investasi pada instrument keuangan (IAS 39), persediaan (IAS 2), Investasi pada perusahaan asosiasi (IAS 28), aktiva pajak tangguhan (IAS 12), aktiva program pendanaan imbalan kerja (IAS 19), dan lain-lain.

Pengelompokkan aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud didasarkan pada sifat fisik aktiva tersebut. Aktiva tetap berwujud adalah aktiva yan memiliki wujud fisik yang dimaksudkan bukan untuk dijual melainkan untuk digunakan menunjang aktivitas operasional perusahaan. Aktiva tetap tidak berwujud adalah aktiva yang tidak memeiliki wujud fisik yang digunakan untuk menunjang operasi perusahaan.

Aktiva Tetap Berwujud

Aktiva tetap berwujud dapat dikelompokkan menjadi aktiva tetap yang dibebankan dengan depresiasi dan deplesi serta aktiva tetap berwujud lain-lain. Akuntansi aktiva tetap berwujud diatur dengan standar akuntansi keuangan tersendiri, yaitu IAS 16 tentang, ‘Property, Plant and Equipment’ yang mengatur perlakuan akuntansi keuangan atas tanah, bangunan dan peralatan. Standar tersebut diberlakukan efektif sejak tanggal 1 Januari 2005 oleh IASB.

  1. Pengakuan

Berdasarkan IAS 16 paragraf 7, suatu aktiva tetap berwujud diakui apabila memenuhi dua syarat sebagai berikut:

  • Besar kemungkinan bahwa manfaat ekonomi di masa yang akan dating yang terkait dengan aktiva tersebut akan mengalir ke dalam perusahaan
  • Biaya perolehan dapat diukur secara andal

 

 

Secara garis besar, biaya-biaya yang terkait dengan aktiva berwujud dikelompokkan ke dalam 3 jenis biaya, yaitu:

  • Biaya penempatan aktiva atau biaya yang dikeluarkan untuk menempatkan aktiva hingga aktiva tersebut dapat digunakan atau biasa disebut dengan initial cost
  • Biaya yang terkait dengan pengoperasian aktiva, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk mengoperasikan aktiva tersebut
  • Biaya yang terkait dengan penghentian aktiva atau termination cost.
  1. Penilaian

IAS 16 menetapkan dua alternative pendekatan yang dapat digunakan untuk menilai aktiva tetap berwujud. Kedua alternative tersebut adalah historical cost dan revaluation model. Salah satu dari kedua pendekatan tersebut harus dipilih dan diterapkan secara konsisten. Berbeda dengan revaluasi aktiva tetap yang ditetapkan dalam PSAK No. 16, revaluasi yang diperbolehkan IAS 16 adalah konsekuensi diadopsinya revaluation model sebagai alternative penilaian aktiva tetap. Revaluasi yang dimaksud dalam IAS 16 tidak hanya revaluasi yang mengakibatkan kenaikan niali aktiva tetap (surplus), tetapi juga revaluasi yang mengakibatkan penurunan nilai aktiva tetap (kerugian).

Aktiva Tetap Tidak Berwujud

                Berdasarkan IAS 38 yang telah direvisi pada tahun 2004, aktiva tetap tidak berwujud adalah aktiva non-moneter yang dapat diidentifikasi yang tidak memiliki wujud fisik.

IAS 38 paragraf 11-17 menyebutkan ada 3 kriteria utama yang harus dipenuhi sehingga suatu aktiva tetap dapat dikatakan aktiva tetap tidak berwujud yaitu identifiability, control, dan economic benefit.

Aktiva tetap tidak berwujud juga dinilai dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu metode harga perolehan dan revaluasi. Perlakuan akuntansi pada saat dilakukan revaluasi juga sama dengan aktiva berwujud, dan selisih akibat revaluasi akan dicatat sebagai bagian dari ekuitas.

 

 

 

 

  1. Pengakuan

Suatu aktiva tetap tida berwujud diakui apabila memenuhi dua syarat sebagai berikut:

  • Besar kemungkinan bahwa manfaat ekonomi di masa yang akan dating yang terkait dengan aktiva tersebut akan mengalir ke dalam perusahaan
  • Biaya perolehan dapat diukur secara andal

Goodwill yang diciptakan secara internal tidak boleh diaku sebagai aktiva karena tida memenuhi sifat identifiability. Terdapat dua kendala umum yang harus diperhatikan untuk mengakui aktiva tetap tidak berwujud yang diciptakan sendiri yaitu:

  • Identifikasi atas ada tidaknya aktiva tidak berwujud yang akan menghasilkan manfaat ekonomi pada masa yang akan dating sangat sulit dilakukan.
  • Menentukan besarnya biaya perolehan secara andal sangat sulit dilakukan.
  1. Penilaian

IAS 38 juga menetapkan dua alternative pendekatan yang dapat digunakan dalam mebukukan aktiva tetap tidak berwujud, yaitu historical cost dan revaluatian model yang harus diterapkan secara konsisten.

 

 

 

 

 

 

BAB 3 INDIKASI PENURUNAN DAN PEMULIHAN NILAI AKTIVA

Indikasi Penurunan Nilai Aktiva

Penurunan nilai aktiva dapat diidentifikasi berdasarkan informasi yang diperoleh yang dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu informasi eksternal dan internal. Informasi eksternal yaitu:

  • Nilai pasar aktiva turun secara signifikan melebihi amortisasi atau depresiasi
  • Adanya perubahan teknologi, pasar, ekonomi dan hukum yang memburk yang mengakibatkan menurunnya nilai aktiva
  • Adanya peningkatan tariff diskonto dan tingkat kembalian investasi yang meningkat yang berakibat pada turunnya nilai aktiva
  • Nilai tercatat dari suatu aktiva lebih tinggi dari nilai kapitalisasi pasarnya

Informasi internal yaitu:

  • Terdapat keusangan fisik
  • Adanya perubahan yang signifikan yang merugikan sehubungan dnegan cara penggunaan aktiva
  • Kinerja ekonomi aktiva tidak sesuai harapan

Secara umum, penurunan nilai aktiva dapat disebabkan oleh adanya mismanagement, inovasi dan teknologi baru perusahaan pesaing, kemampuan sumber daya manusia yang merosot, kondisi pasar yang tidak memihak, adanya perubahan regulasi dan hokum yang tekait dengan penggunaan aktiva dan mark-up yang pernah dilakukan pada saat oerolehan aktiva.

Indikasi Pemulihan Nilai Aktiva

                Informasi eksternal terdiri dari:

  • Nilai pasar aktiva naik secara signifikan selama periode pelaporan
  • Adanya perubahan signifikan dengan efek yang menguntungkan
  • Adanya penurunan tingkat suku bungan pasar atau tingkat kembalian investasi pasar selama periode pelaporan

Informasi internal terdiri dari:

  • Adanya perubahan signifikan dengan efek yang menguntungkan dari penggunaan aktiva pada perusahaan selama periode pelaporan atau pada masa yang akan dating

Adanya bukti yang berasal dari pelaporan internal yang mengindikasikan kinerja ekonomi aktiva akan lebih baik dari yang diharapkan

BAB 4 UNIT PENGHASIL KAS, GOODWILL DAN CORPORATE ASSETS

Identifikasi Unit Penghasil Kas

                Dalam bahasa bisnis, UPK dikenal juga dengan istilah “unit bisnis” atau “divisi bisnis”. Dalam kasus penggabungan usaha, setiap aktiva yang berasal dari perusahaan yang diakuisisi (acquiree) harus dialokasikan ke dalam UPK atau sekelompok UPK yang ada pada perusahaan pengakuisisi (acquirer).

Penentuan Unit Penghasil Kas

  1. Alokasi corporate assets

Corporate assets adalah aktiva kelompok atau divisi yang tidak menghasilkan kas secara mandiri. Namun , dalam suatu entitas terkadang ditemukan corporate assets yang tidak dapat menghasilkan kas secara mandir.

  1. Alokasi goodwill

Ada dua pandangan yang hingga saat ini mempengaruhi konsep pengakuan goodwill yaitu ‘penciptaan laba lebih besar’ dan ‘aktiva tersembunyi’. Goodwill adalah selisih antara harga perolehan suatu penggabungan usaha dengan nilai wajar aktiva, kewajiban dan kewajiban kontijensi atau aktiva bersih suatu perusahaan yang diakuisisi (acquiree). Goodwill ini biasa disebut juga dengan goodwill positif. Namun perlu diketahui, ada kalanya harga perolehan suatu penggabungan usaha lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai wajar aktiva bersih suaru perusahaan yang diakuisisi (acquiree) atau biasa juga disebut goodwill negative. Namun berbeda dengan goodwill positif, IASB tidak mengatur secara jelas apakah goodwill negative juga harus dialokasikan pada UPK atau sekelompok UPK yang mendapat efek anti-sinergis dari suatu proses penggabungan usaha.

 

 

 

BAB 5 PENGUJIAN PENURUNAN NILAI AKTIVA

Untuk memastikan apakah telah terjadi penurunan nilai aktiva atau tidak, manajemen harus terlebih dahulu melakukan pengujian atas UPK-UPK yang ada pada suatu entitas bisnis. Pengujian harus dilakukan secara netral dan objektif atas UPK dan goodwill yang terkait dnegannya sehingga bebas dari salah saji yang material.

Pengujian sebaiknya dilakukan oleh manajemen perusahaan sebagai pihak yang paling mengetahui kondisi perusahaan. Manajemen juga dapat melakukan pengujian berdasarkan rekomendasi auditor eksternal.

Kapan pengujian dilakukan?

Berdasarkan IAS 36 paragraf 96, pengujian atas UPK dimana suatu goodwill dialokasikan, dapat dilakukan setiap waktu dalam satu periode akuntansi. Pengujian dilakukan secara berjenjang dengan mengacu kepada pola alokasi goodwill. Sama halnya dengan IAS 36, SFAS 144 pada paragraph 8 menegaskan bahwa apabila terdapat indikasi adanya penurunan nilai aktiva tetap, maka pengujian penurunan aktiva tetap harus segera dilakukan.

Prosedur Pengujian Penurunan Nilai Aktiva

                Secara garis besar, keseluruhan proses pengujian hingga pengakuan rugi penurunan nilai aktiva dilakukan dengan memperhatikan langkah-langkah  sebagaimanan ditetapkan dalam IAS 36:

 

 

 

 

 

 

 

Apabila terdapat corporate assets, manajemen perusahaan harus terlebih dahulu mengalokasikan corporate assets ke dalam UPK atau sekelompok UPK yang terkait IAS 36 paragraf 102-103 menngatur hal-hal yang harus dperhatikan dalam menguji penurunan nilai suatu UPK secara rinci, dengan keberadaan corporate assets:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 6 PENGAKUAN RUGI PENURUNAN NILAI AKTIVA

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengakuan terhadap rugi penurunan nilai aktiva, seperti penentuan recoverable value, value in use, nilai wajar dan alokasi rugi penurunan nilai aktiva.

Recoverable Value

                Recoverable value adalah nilai tertinggi antara value in use dan nilai wajar suatu aktiva. Yangdimaksud dengan nilai wajar disini adalah nilai wajar yang berdasarkan harga pasar yang aktif dikurangi biaya jual. Sedangkan value in use adalah nilai kini taksiran arus kas yang diharapkan dari penggunaan ataupun pelepasan suatu aktiva.

IAS 36 menjelaskan bahwa suatu perusahaan akan memutuskan menjual aktivanya apabila ditemukan harga jualnya lebih tinggi dari kas yang dihasilkannya. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah nilai wajar dan value in use.

Alokasi Penurunan Nilai Aktiva

                Sebelum IAS no. 36 diberlakukan, pernah diusulkan dalam draft IAS 36 agar alokasi penurunan nilai dilakukan dengan urutan sebagai berikut:

  1. Goodwill
  2. Aktiva tetap tidak berwujud dimana tidak terdapat pasar yang aktif
  3. Aktiva yang nilai jual bersih lebih rendah ketimbang nilai tercatat
  4. Aktiva lainnya dalam suatu UPK secara pro rata dengan basis nilai tercatat

Goodwill menjadi prioritas utama dalam penurunan nilai aktiva karena penurunan nilai aktiva harus lebih diutamakan terhadap aktiva yang memiliki nilai-nilai yang paling subjektif.

 

 

 

BAB 7 PEMULIHAN PENURUNAN NILAI AKTIVA

Berdasarkan IAS 36, pemulihan penurunan nilai aktiva dikenal dengan istilah ‘reversal’. IAS 36 menetapkan ketentuan yang terpisah atas pemulihan nilai aktiva secara individual, kelompok UPK dan goodwill.

Pengakuan

Pemulihan nilai aktiva akan diakui sebagai bagian ekuitas atau sebagai penambah surplus revaluasi apabila aktiva yang telah diturunkan nilainya pernah direvaluasi karena menggunakan revaluation model, dan saldo surplus revaluasi yang berasal dari revaluasi tahun-tahun sebelumnya belum habis. Apabila suatu aktiva pernah diturunkan nilainya dimana saldo surplus revaluasi  telah habis, maka suatu pemulihan aktiva akan diakui sebagai laba hingga niali aktiva dipulihkan sebesar nilai tercatat yang tidak memperhitungkan revaluasi.

Apabila aktiva dikelompokkan ke dalam UPK, maka pemulihan aktiva harus dialokasikan dengan cara pro rata berdasarkan nilai tercatat aktiva-aktiva tersebut kecuali goodwill. IAS 36 paragraf 124 menyebutkan bahwa kerugian yang timbul sebagai akibat penurunan nilai goodwill tidak dapat dipulihkan nilainya atau tidak dapat mengalami reversal pada periode-periode berikutnya.

Pada saat exposure draft IAS 36 dikeluarkan, hamper semua responden berpendapat bahwa pemulihan nilai goodwill adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.

This entry was posted in Akuntansi Internasional. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s