Seminar Akuntansi

CASE STUDY

 

Berikut adalah keterangan dari kasus yang dirujuk kepada komite disipliner  CPA Australlia pada tahun 2002. Kasus ini merupakan temuan dari komite disiplin pada 1 Oktober 2002, dicatat oleh dewan divisi pada 27 November 2002 dan diumumkan dalam CPA Australia Februari 2003, hal 78-9. Kasus ini melibatkan akuntan yang meminjam uang dari klien untuk membiayai pengeluaran pribadi dan investasi properti dan kemudian gagal membayar uang. Akuntan memiliki dua kasus (disebut sebagai tertentu) untuk menjawab, mereka adalah:

 

Kasus A

  • Pada tanggal 6 Agustus 1997 akuntan mengunjungi rumah kliennya, mr. X, dan meminta pinjaman sebesar $30000, harus dilunasi dalam satu bulan, untuk pembelian properti di Central Coast. Mr X setuju dan memberi akuntan cek ditarik di rekening banknya
  • Pada tanggal 2 November 1997 akuntan menelepon Mr X dan meminta pinjaman lebih lanjut sebesar $2000, yang dibutuhkan untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya
  • Pada tanggal 25 Februari 1998 dalam surat pribadi bertulis tangan kepada pengacara Mr.X dan dalam perjanjian pinjaman akuntan mengakui bahwa ia berutang Mr X $32000
  • Pada tanggal 29 November 2000 akuntan muncul di pengadilan hakim federal Australia dalam menanggapi pemberitahuan pailit yang dikeluarkan atas nama Mr.X sebelum muncul, penyelesaian dinegosiasikan antara pengacara akuntan dan pengacara Mr X, atas dasar bahwa akuntan akan membayar Mr X jumlah 29000, permohonan itu harus diberhentikan dan masing-masing pihak melepaskan yang lain dari segala tuntutan lebih lanjut.

 

Soal: Untuk Kasus A

  1. Identifikasi prinsip-prinsip fundamental dari kode etik yang akuntan langgar dan jelaskan mengapa mereka melanggarnya?

Jawab: Untuk Kasus A, kode etik yang dilanggar adalah

(1)    Independensi karena akuntan seyogyanya terlihat sebagai seseorang yang bebas dari segala kepentingan yang mungkin dihormati apapun efek actual yang ditimbulkan olehnya, sebagai sesuatu yang tidak dibenarkan dalam integritas dan objektifitas. Sedangkan dalam kasus ini jelas bahwa akuntan meminjam uang dari klien untuk kepentingan pribadinya.

(2)    Ethical behavior karena akuntan seyogyanya mengatur dirinya dalam pola yang konsisten dengan reputasi yang baik pada profesi mereka dan menahan diri dari segala sesuatu yang mungkin membawa ketidakpercayaan terhadap profesinya. Dalam kasus ini jelas terlihat bahwa apa yang dilakukan anggota tersebut dapat berakibat pada image profesi akuntan.

 

 

  1. Akuntan ditemukan melakukan pelanggaran kode etik. Apakah sanksi yang tepat untuk akuntan tersebut?

Jawab: Menurut Kasus  A,  kesepakatan yang terjadi antar pihak klien dan akuntan

menyebabkan akuntan  harus membayar uang sejumlah  $29.000, kondisi ini setelah

melalui proses negosiasi di pengadilan. Namun, menurut saya sanksi yang seharusnya

diberikan adalah berupa peringatan kepada anggota karena pelanggaran yang dilakukan

  • oleh anggota bukan merupakan pelanggaran yang berat dan tidak mengatas namakan

CPA dalam prosesnya.

 

 

  1. Apakah jawaban anda untuk pertanyaan nomor satu dan dua berbeda jika mereka membayar kembali utang yang mereka akibatkan?

Jawab: Sebenarnya perlakuan terhadap akuntan tersebut dapat kita lihat dari dua sisi yang

berbeda. Di satu sisi akuntan tersebut telah melanggar kode etik profesinya. Jadi,

walaupun dia telah membayar ganti rugi atas utang tersebut, sebaiknya tetap

mendapatkan sanksi atas pelanggaran kode etik tersebut agar kejadian seperti itu dapat

diminimalisir. Melihat dari sisi regulasi yang ada, ketika kewajiban telah dilaksanakan

sudah tentulah tidak perlu adanya hukuman atau sanksi lagi. Namun, berdasarkan

profesinya maka lebih tepat ketika diadili secara kode etik profesi itu sendiri.

 

  1. Apakah anda percaya nama akuntan tersebut harus dipublikasikan ketika mereka melanggar kode etik?

Jawab: Seperti yang kita ketahui, publikasi nama merupakan salah satu jenis sanksi yang bisa di

berikan kepada pelanggar kode etik. Namun untuk kasus ini, tidak perlu dilakukan

publikasi nama karena hal ini akan berdampak besar bagi kredibilitas kantor CPA yang

ada. Publikasi nama secara internal sebenarnya dapat dilakukan untuk meminimalkan

potensi-potensi anggota melakukan hal yang serupa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kasus B

  • Klien akuntan, Mr dan Mrs Y, menyewa seorang kontraktor bangunan terdaftar untuk melakukan renovasi.
    • oSimak

Baca secara fonetik

Kamus –

 

1998 ada masalah dengan sejumlah subkontraktor dan beberapa persediaan legal dan item

PC

  • Agar developer menyadari bahwa Mr dan Mrs Y khawatir tentang masalah-masalah dan menawarkan untuk mengembalikan $53.000 kepada Ny Y untuk dimasukkan ke rekening larangan-nya sampai hal-hal dalam sengketa diselesaikan. Uang itu kemudian dikembalikan ke developer. Mrs Y menolak untuk mengambil uang dan developemenyarankan bahwa Mrs Y berbicara dengan “akuntan”, akuntannya
  • Pada atau sekitar 27 dan 28 Februari 1998 akuntan menerima cek sebesar $ 28,000 dari kliennya, Mr dan Mrs Y, menjadi pengembalian pembayaran pogress yang dilakukan oleh bank untuk developer dan pada atau sekitar 6 Maret 1998 akuntan menerima lebih lanjut $ 25.000 dari developer mereka juga menjadi kembalinya pembayaran kemajuan yang dibuat oleh bank. Atas permintaan akuntan, developer setuju untuk meminjamkan uang akuntan sebagai dana talangan untuk pembelian rumah. Dia membayar developer dalam enam minggu.
  • Pada 10 juli 1998, developer memulai aksi legal melawan akuntan melalui kegagalannya dalam mengembalikan uangnya.
  • Pada 21 juli 1998 dalam surat tulisan tangan akuntan kepada juru sita, dia menerima bahwa dia berutang kepada developer sebesar 53000
  • Pada 14 juli 1999, dalam perjanjian pengadilandistrik, sebagai hukuman, ditagih kepada akuntan yang setuju bahwa dia berutang kepada developer 58603,03 dan biaya 2500
  • Pada 13 juli 2001, dia muncul di pengadilan distrik untuk membatalkan pembayaran atas denda dan telah diperiksa propertinya dan puas atas denda tersebut. Denda tersebut dibayar pada oktober 2001

 

Soal: Untuk Kasus B

  1. Identifikasi prinsip-prinsip fundamental dari kode etik yang akuntan langgar dan jelaskan mengapa mereka melanggarnya?

Jawab: Untuk Kasus B, kode etik yang dilanggar adalah

(1)    Publik interest karena akuntan seyogyanya sepanjang waktu menjamin kepentingan dari klien dan pegawai yang disajikan dimana akuntan tidak memunculkan konflik antara kewajiban dan loyalitas diberikan kepada masyarakat dan hukumnya. Dalam Kasus B jelas dilanggar karena ternyata kepentingan klien tidak dijunjung tinggi.

(2)    Objektivitas karena akuntan seyogyanya adil dan tidak mengijinkan keberpihakan, konflik kepentingan, atau bias dalam menolak objektifitas. Namun dilihat dari kasus B tersebut jelas keberpihakannya dalam menjalankan profesinya.

(3)    Independensi karena akuntan seyogyanya terlihat sebagai seseorang yang bebas dari segala kepentingan yang mungkin dihormati apapun efek actual yang ditimbulkan olehnya, sebagai sesuatu yang tidak dibenarkan dalam integritas dan objektifitas. Sedangkan dalam kasus ini jelas bahwa akuntan hanya mementingkan dirinya sendiri.

(4)    Ethical behavior karena akuntan seyogyanya mengatur dirinya dalam pola yang konsisten dengan reputasi yang baik pada profesi mereka dan menahan diri dari segala sesuatu yang mungkin membawa ketidakpercayaan terhadap profesinya. Dalam kasus ini jelas terlihat bahwa apa yang dilakukan anggota tersebut dapat berakibat pada image profesi akuntan.

 

  1. Akuntan ditemukan melakukan pelanggaran kode etik. Apakah sanksi yang tepat untuk akuntan tersebut?

Jawab: Dalam hal ini, sanksi yang tepat adalah Suspension. Suspension adalah melakukan

skorsing terhadap anggota. Hal ini dikarenakan kejadian yang terjadi cukup besar dan

melibatkan banyak pihak menyebabkan dampak yang muncul semakin besar pula.

 

  1. Apakah jawaban anda untuk pertanyaan nomor satu dan dua berbeda jika mereka membayar kembali utang yang mereka akibatkan?

Jawab: Sebenarnya perlakuan terhadap akuntan tersebut dapat kita lihat dari dua sisi yang

berbeda. Di satu sisi akuntan tersebut telah melanggar kode etik profesinya. Jadi, walaupun dia telah membayar ganti rugi atas utang tersebut, sebaiknya tetap mendapatkan sanksi atas pelanggaran kode etik tersebut agar kejadian seperti itu dapat diminimalisir. Melihat dari sisi regulasi yang ada, ketika kewajiban telah dilaksanakan sudah tentulah tidak perlu adanya hukuman atau sanksi lagi. Namun, berdasarkan profesinya maka lebih tepat ketika diadili secara kode etik profesi itu sendiri.

 

 

 

  1. Apakah anda percaya nama akuntan tersebut harus dipublikasikan ketika mereka melanggar kode etik?

Jawab: Seperti yang kita ketahui, publikasi nama merupakan salah satu jenis sanksi yang bisa di

berikan kepada pelanggar kode etik. Namun untuk kasus ini, tidak perlu dilakukan

publikasi nama karena hal ini akan berdampak besar bagi kredibilitas kantor CPA yang

ada. Publikasi nama secara internal sebenarnya dapat dilakukan untuk meminimalkan potensi-potensi anggota melakukan hal yang serupa.

This entry was posted in Case Study, Seminar Akuntansi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s